4 Langkah agar anak tak menjadi seorang idealis

4 Langkah agar anak tak menjadi seorang idealis

101

Apakah Moms termasuk orang tua yang selalu menyediakan fasilitas terbaik dan dukungan penuh untuk Si Kecil? Ini memang bukan hal yang salah. Namun, berdasarkan pengamatan psikolog anak, Rosdiana Setyaningrum, M.Psi, M.HPEd, terdapat kecenderungan sifat idealis dalam diri anak-anak yang sejak kecil diberikan dukungan penuh.

Dukungan yang dimaksud dapat berupa pola pengasuhan maupun fasilitas, seperti memilihkan sekolah terbaik, memberikan les, juga menemaninya mengerjakan PR setiap hari. Pujian dan semangat yang ia terima, juga ungkapan khusus seperti prince atau princess juga termasuk di dalamnya.

Tanpa disadari, ungkapan seperti ini dapat membuat Si Kecil merasa sangat penting, sehingga ia berpikir sudah sewajarnya mendapatkan segala hal yang dibutuhkan atau diinginkannya. Jika dibiarkan, kelak ia akan tumbuh menjadi anak yang bergantung dengan dukungan dari luar dan ‘mengharuskan’ lingkungan sekitar memberi dukungan untuknya.

Bahayanya, anak-anak yang tumbuh dengan pola pikir seperti ini akan lebih mudah menyerah, menyalahkan orang lain, stres, sulit bahagia, hingga depresi. Padahal, Si Kecil perlu belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, karena tidak ada kondisi yang ideal.

Untuk menjaga agar sifat idealis tidak tumbuh dalam diri Si Kecil memang tidak mudah. Di satu sisi, anak perlu diberikan dukungan, tetapi pastikan dukungan tersebut tidak membuatnya tergantung dengan lingkungan. Moms dapat mencoba menyeimbangkan kedua hal ini dengan melakukan langkah berikut:

1. Hindari memanggil Si Kecil dengan sebutan prince atau princess. Sesekali boleh, tetapi jangan setiap hari ya, Moms! Ganti dengan ungkapan lain, seperti sayang.

2. Ajarkan bahwa ia perlu menunggu atau berusaha untuk mendapatkan yang diinginkan, misalnya minta Si Kecil untuk mandi dahulu sebelum menonton TV.

3. Berikan pengertian bahwa orang tua juga punya kebutuhan, sehingga tidak bisa menemaninya setiap saat. Jelaskan bahwa Moms perlu bekerja untuk mendapat uang atau perlu bertemu dengan teman-teman, layaknya Si Kecil yang senang saat bermain dengan temannya.

4. Biarkan anak mengerjakan hal atau kegiatan yang sudah bisa dikerjakan sendiri, seperti berpakaian, makan, dan lainnya. (M&B/Vonia Lucky/SW/Shuterstock)

Sumber Mother and Baby Indonesia

Share it