7 Pilihan pustaka untuk Kartini masa kini

7 Pilihan pustaka untuk Kartini masa kini

334

Tak hanya sebagai sosok emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini juga terkenal akan gerakan yang berhasil menginspirasi sekian banyak perempuan Indonesia berkat tulisan yang dihasilkannya. Bukan secara harafiah, namun merupakan surat-surat yang dikumpulkan dalam sebuah buku bertajuk Habis Gelap Terbitlah Terang.

Surat-surat itu pun dinilai sebagai wujud pemberontakan akan keterbatasan ruang gerak perempuan pada saat itu. Kartini termasuk beruntung kendati berasal dari keluarga priayi sehingga memiliki akses pendidikan yang lebih besar ketimbang yang bisa didapat wanita lain di masanya.

Sepanjang 25 tahun hidupnya, Kartini diyakini telah membaca banyak buku yang memperkaya pengetahuannya, bahkan dicurigai memicu pemikiran radikal yang tertera pada surat-surat tersebut. Maka itu, karya literatur dan feminisme merupakan dua hal yang kerap dikaitkan dengan Kartini hingga saat ini.

Dalam rangka menyambut Hari Kartini 21 April mendatang, Bazaar mengkurasi sejumlah karya literatur garapan penulis perempuan Indonesia yang dapat menjadi inspirasi bagi para wanita masa kini.

1. Amba – Laksmi Pamuntjak

Amba bercerita tentang kisah cinta antara dua insan manusia yang terpisah karena gejolak komunisme yang tengah terjadi di Indonesia kala itu.

Dituturkan dengan alur tragis yang dibalut dengan porsi sentimental yang pas, Amba mampu memainkan emosi pembaca secara subtil.

 

2. Jangan Main-Main Dengan Kelaminmu – Djenar Maesa Ayu

Djenar Maesa Ayu acap kali mengangkat tema yang cenderung vulgar. Begitu juga dengan buku yang terdiri dari 11 stensil ini, seperti tertera pada judulnya.

Buku ini menyoroti kelamnya latar belakang di balik perempuan-perempuan yang kerap di cap dan memiliki konotasi negatif di mata masyarakat.

Lain dari kebanyakan buku sastra dan prosa yang acap kali dikemas secara puitis, kumpulan cerita pendek ini dituturkan secara gamblang sebagai gambaran realita dari sisi kehidupan gelap yang jarang diungkap. Meski kontroversial, buku ini tetap mendapat sambutan baik dari para pembaca.

 

3. Perempuan Pemimpin – Betti Alishjabana

Buku ini berisi tentang sepuluh kisah inspiratif dari sosok wanita yang berperan dalam perkembangan perusahaan besar, baik pada level nasional maupun multinasional.

Dikumpulkan dan disunting oleh Betti Alishjabana, kisah-kisah ini diharapkan dapat menginspirasi wanita Indonesia untuk mempunyai keberanian dalam membangun bisnis sendiri maupun maju ke langkah lebih tinggi di lingkup perusahaan tempat mereka bekerja.

 

4. 9 Dari Nadira – Leila S. Chudori

9 Dari Nadira menuturkan gambaran tentang pengaruh depresi pada kehidupan seorang perempuan bernama Nadira.

Pasca kepergian ibunya akibat bunuh diri, Nadira mempertanyakan jati dirinya sebagai seorang anak, wartawan, kekasih, hingga eksplorasi terhadap dunia seksualitas yang tidak pernah disentuhnya.

 

5. Saman – Ayu Utami

Buku ini bercerita tentang perempuan bernama Saman. Tokoh heroine tersebut digambarkan sebagai karakter yang berjasa dalam mengekspos penindasan terhadap buruh perkebunan di Sumatra Selatan selagi mengungkap segala hal yang dianggap tabu dan sensitif oleh masyarakat Indonesia seperti agama dan seksualitas.

6. Rectoverso – Dewi Dee Lestari

Kecintaan sang penulis akan musik dan tulisan dipadu dengan indahnya dalam satu proyek bertajuk Rectoverso.

Tak hanya berisi tulisan, ikut serta dalam paket ini merupakan satu compact disc (CD) berisikan tembang yang dinamakan sesuai masing-masing bab yang ada pada buku tersebut.

 

7. Divortiare – Ika Natassa

Lewat referensi yang kerap terdengar pada kehidupan modern, Divortiare berhasil menarasikan permasalahan yang tengah dihadapi oleh kaum millenial masa kini yaitu komitmen.

Tentunya dengan bahasa mudah dimengerti tanpa mengurangi porsi puitis yang ingin disampaikan.

(Foto: Dok.Goodreads)

Source: Harpers Bazaar

Cosmoners, yuk terus dengarkan Cosmopolitan FM di 90.4 FM, atau bisa melalui streaming di sini!

Baca juga:
“Life Size” is back starring Tyra Banks!
Gentle birth ala Andien Aisyah
Lana Del Rey menulis sebuah lagu sepulang Coachella