Inside Out, mengenai apa yang terjadi di kepala anak Anda

Inside Out, mengenai apa yang terjadi di kepala anak Anda

506
Pictured (L-R): Sadness, Fear, Anger, Disgust, Joy.

Pixar Animation Studios lagi-lagi membuat kagum banyak orang dalam peluncuran perdana film terbarunya, ‘Inside Out’ pada Juni lalu di Prancis dalam Festival Film Cannes.

Rasa kagum itu juga tertular kepada Cosmo yang berkesempatan menyaksikan lebih awal sebelum tayang di semua bioskop Indonesia, 19 Agustus 2015 nanti.

Dan berikut review Cosmo tentang film ini, yang bergenre comedy drama dan berdurasi 94 menit.

Cerita dimulai di ruang persalinan, tempat di mana tokoh utama diperkenalkan, Riley. Kelahiran Riley juga memunculkan tokoh baru yakni Joy si penanggung jawab rasa bahagia dalam diri Riley.

Joy bersemayam di pusat kendali Riley. Yang kemudian seiring bertambahnya usia, muncul juga karakter emosi lainnya, yaitu, Fear [bertugas untuk menjaga Riley tetap aman], Anger [pengatur emosi marah untuk memastikan Riley diperlakukan adil], Disgust [yang mengatur rasa suka dan tidak], dan Sadness [yang menentukan kapan harus bersedih].

Di dalam ruang pusat kendali ini terdapat alat pengatur emosi, lemari penyimpan ingatan, tempat penyimpan ingatan inti, gudang penyimpan ingatan, lembah pembuangan memori, dan istana-istana pencapaian emosi seperti keluarga, kejujuran, dan lainnya.

Jadi, Joy, Fear, Anger, Disgust, dan Sadness, bersama mengatur tindakan apa yang harusnya dilakukan Riley menanggapi suatu kejadian. Di bawah komando Joy, Riley menjadi anak yang ceria.

Tetapi ketika keluarga ini pindah dari Minnesota ke San Francisco, masalah mulai datang. Bertepatan dengan itu pula, Sadness mulai mencoba mengambil peran di pusat kendali, namun Joy mencegahnya, ia ingin Riley tetap ceria.

Lewat suatu kejadian, Joy dan Sadness tersedot ke gudang penyimpanan ingatan yang berada jauh dari ruang kontrol utama. Alhasil, ruang kontrol dipegang tiga karakter emosi, Anger, Fear, dan Disgust. Jadinya, Riley berubah menjadi anak yang cepat emosional.

Kondisi Riley ini membawa dirinya ke dalam jurang bahaya. Anger, Fear, dan Disgust berharap Joy dan Sadness dapat cepat kembali untuk membantu mereka membuat Riley bahagia lagi. Mampuhkah mereka mengatasinya?

Ide cerita ini sendiri berasal dari Pete Docter sang sutradara yang mengamati perubahan tingkah laku anak perempuannya yang berusia sama dengan Riley, 11 tahun. Ia penasaran, apa yang membuatnya berubah seperti itu. Kemudian timbulah imajinasi tentang bagaimana cara kerja otak dianimasikan.

Dalam tahap pengerjaannya ini, Pete Docter dan tim sampai melakukan penelitian mengenai cara kerja otak dengan bertanya kepada psikolog terkemuka Paul Ekman serta Profesor Psikologi Dacher Keltner. Sehingga, film ini tak hanya sekadar imajinasi tetapi ada pengetahuan di sana yang bisa dipelajari.

Selain apa yang ada di isi kepala Riley, Pixar juga menggambarkan apa yang ada di isi kepala orangtua Riley. Seru deh Cosmoners! So, don’t miss this movie! Selamat menonton! [teks @bartno | foto dok. Pixar]