Marshanda, tentang dirinya sekarang ini

Marshanda, tentang dirinya sekarang ini

777

Keterlibatannya di dunia entertainment telah dimulainya sejak kecil. Marshanda [26] kini telah mengalami lika-liku dalam kehidupannya. Dan setelah berbagai tahapan itu, Marshanda kembali dengan tampilan dan jiwa yang baru.

Bagaimana kisah perjalanannya sampai di titik ini. Ucita Pohan dalam program Fun Fearless Female di 90.4 Cosmopolitan FM menemukan jawabannya dalam bincang seru dengan Marshanda beberapa waktu lalu.

Apa yang menyenangkan di hidupmu baru-baru ini?
“Beberapa bulan ini lagi sering olahraga, yoga, dance, twerking, ada Muay Thai juga. Walau Muay Thai yang paling jarang ya karena cape abis. Berenang juga, dan yang seru adalah adjusting dari hidup aku sebelumnya yang total workaholics. Jadi lebih menikmati hidup.”

Apa yang menyenangkan menjadi seorang ibu?
“Ini adalah journey yang paling menyenangkan. Dari hamil, aku yakin banget kalau nggak ada Sienna [putrinya], aku nggak akan puas sama diri aku sendiri dan bangga sama diriku sendiri.

“Aku menyadari itu pas ngurus Sienna, terutama di tahun pertama aku nggak pake baby sitter, ngurus sendiri, dan itu enak banget. Apalagi beberapa bulan pertama. Walaupun challenging dan bikin cape, tapi itu tipe kecapean yang bikin happy.

“Aku banyak belajar parenting dan aku nerapin itu ke Sienna. Dan itu benar-benar ada hasilnya langsung, dia jadi anak yang secure, dan itu amazing.”

Beberapa kali, lewat akun sosial medianya, Marshanda menampilkan kesibukannya sedang melakukan twerking dance. [twerking adalah jenis menari seorang individu, biasanya perempuan, tarian musik dengan cara provokatif secara seksual melibatkan menyodorkan gerakan pinggul dan sikap jongkok rendah (wikipedia), tarian ini dipopulerkan oleh Miley Cyrus].

Kenapa twerking?
“Kebetulan ada sahabat aku dari kecil, terus dia baru balik dari Ausie, udah sekolah beberapa tahun lah di sana. Terus pas aku kontak-kontakan sama dia, dia lagi ngajar twerk dance. Ya udah, akhirnya pengin tahu, belajar, dan ternyata enak banget. For fun tapi challenging gitu.”

Setuju kah kamu dibilang sosok yang berani mengungkapkan semua isi hati?
“Iya, kalau nggak begitu aku malah nggak bisa, itu kebutuhan buat aku. Makanya nggak gampang jadi aku dan jadi orang yang deket sama aku. Untuk jujur itu seringkali nggak enak.

Dan aku percaya kalau ada orang yang jujur sama aku berarti dia percaya sama aku, dia mau take risk percaya sama aku. Berarti dia melihat aku orang yang pantas dipertahankan dalam hidupnya.”

Keputusan terberani yang pernah diambil?
“Jujur sama publik akan struggle yang aku lewatin, dan masih ada sampai sekarang, yaitu having bipolar disorder. Dan itu nggak mudah.”

“Aku barusan terlintas sesuatu dan pengin share. Banyak orang yang mungkin salah paham tanpa mereka sadarin. Mereka mengartikan role model itu adalah manusia yang sempurna.

Padahal being raw model bukan berarti tentang menjadi sempurna. Tapi being able tetap maju terus, walaupun kena panah terus, dan in the end masih bisa mencintai orang-orang di sekitarnya, dan diri sendiri, dan itu human.”

Kalau biggest fear?
“Kodok sih. Aku geli banget sama kodok. Pernah pas SMA saat TO [Trip Observasi] kita dibawa ke desa, tinggal di rumah penduduk. Terus kamar mandinya masih seadanya aja. Nah, pas aku lagi mandi dan kemudian nengok ke kiri bawah, ada kodok di pojok itu ngeliatin. ‘please jangan maju, please jangan maju’, untungnya itu kodok, ngerti, malah menjauh.”

Suka stalking siapa di sosial media?
“Aku banyak banget nge-follow akun-akun fashion yang isinya fashion-fashion sekarang itu seperti apa. Oh ada satu cewe namanya Kristina Webb, dia orang Australia kalau nggak salah, dan dia jago banget ngelukis. Gambarnya keren-keren banget.”

Kamu melihat hatters seperti apa?
“Sepengalaman aku berkarir di dunia entertainment dari kecil, aku nggak pernah ketemu sama orang yang langsung nuding bla,bla,bla di depan orang-orang ketika aku di ruang publik seperti dufan, mall, dan lain-lain. Istilahnya dari instagram dia ngeselin dan nyesek kata-katanya, tapi dalam sebuah kenyataan itu nggak pernah. They only exist in instagram aja.

“Bagi mereka, itu udah kebiasaan aja, menuangkan kemarahan mereka. Hidup mereka sendiri ‘ditekan kanan-kirinya’ dan mereka nggak punya wadah untuk ekspresiinnya, karena orang yang di ‘kanan-kirinya’ nggak mau terima.

“Makanya dia menjadi orang yang begitu ‘pahit’. Aku punya beberapa orang yang dekat seperti itu, dan memang mereka dari kecil, seperti 99 persen kehidupan mereka tersiram dengan kepahitan.

“Mereka tidak punya contoh nyata selain dari film atau televisi mungkin. Bagaimana sih untuk appreciate orang lain, mencintai dan untuk mengekspresikan rasa cinta ke orang lain. Dan mereka lebih gampang mengeluarkan sisi negatif. Nggak bisa disalahin sih, mereka suffer, kasihan.”

Lebih senang mengekspresikan perasaan dengan apa?
“Pasang lagu, spend a long time. Aku orang yang butuh banget me time, dan aku merasa lega di situ. Kalau nggak sempat me time, paling nulis. Dan sering nemuin kaya healing aku dari tulisan sendiri. ‘Kok sepertinya aku dapat jawabannya’, malah kadang-kadang ketawa di tengah-tengah nulis, ‘kok yang tadi udah nggak jadi masalah ya.”

Terakhir, how to have a fun and fearless life just like you?
“Miliki kemauan dan keberanian untuk mengenal dan lebih tahu diri kita sendiri, dan apa hal-hal yang benar-benar bikin kita bahagia, apa hal yang membuat kita merasa nggak nyaman, dan apa hal yang membuat kita nggak bisa semaksimalnya kita.

“Jadi kenali diri kita dan sadari bahwa kita seindah itu, kita deserve to get the best life. Tuhan melahirkan kita di dunia ini karena setiap hamba-Nya itu spesial di mata Tuhan. Tuhan melihat kita spesial, tapi sering kali kita melihat diri kita worthless. Step by step starting today let’s learn to love our self, sebagaimana Tuhan mencintai kita.” [teks @bartno | foto fiona]