Menghadapi anak yang menjadi korban bully dan pelaku bully

Menghadapi anak yang menjadi korban bully dan pelaku bully

474

Setiap orang pasti pernah mengalami bully dan mem-bully. Dalam acara Breakfast club bersama dengan Lembu Wiworojati dan Novita Angie, Novita Angie menceritakan anaknya yang ternyata di-bully di sekolahnya.

Sebagai anak seorang public figure yang memiliki followers di sosial media yang banyak tak heran banyak teman yang ternyata menyimpan iri.

Jika sang anak memiliki perubahan sikap di rumah seperti murung, malas sekolah, atau gelisah saat tidur Cosmoners perlu mencurigai sang anak menjadi korban bully di sekolahnya.

Memang sih sebagai orang tua pasti kesal, tetapi coba deh handle dengan cara yang lebih bijaksana.

Mencari mediator seperti pihak sekolah merupakan solusi yang baik.

Menurut psikolog Rosdiana Setyaningrum jika anak menjadi korban bully, segera laporkan ke sekolah karena masalah tersebut merupakan tanggung jawab guru dan sudah semestinya mereka memiliki sistem terbaik untuk mengatasi bully.

Untuk sang anak beritahukan jika mereka harus bisa melindungi diri sendiri dari ejekan teman-temannya.

Selain menjadi korban bullying, tak jarang anak juga menjadi pelaku bullying. Menurut psikolog Tara Dethouars terdapat tiga faktor sang anak bisa menjadi pelaku bullying, yakni:

Anak memiliki karakter agresif
Jika sang anak memiliki karakter yang agresif hal itu memiliki risiko besar ia menjadi pelaku bully.
-Melihat contoh dalam keluarga
Menurut anak itu hal itu hal yg biasa karena terbiasa melihat perilaku di keluarganya.
-Tipikal anak yang insecure
Karena tidak percaya diri, ia menjatuhkan orang lain agar terlihat lebih powerful dan superior.

Cosmoners, yuk terus dengerin Cosmopolitan FM di 90.4 FM, atau bisa melalui streaming di sini!

[teks Dessyana Kosasih | foto cookortho.com]

Baca juga:
Kumpulan film seru yang tayang di bulan Mei
Zoeva segera luncurkan koleksi Basic Moment
Fun Fearless Female profile bersama Ayu Dewi