Putri Marino, penyuka kopi yang senang tinggal di Bali

Putri Marino, penyuka kopi yang senang tinggal di Bali

211

Cukup dengan satu film dan Putri Marino telah berhasil menyabet Piala Citra. Namun, Putri bukanlah one-hit wonder. Wanita berdarah Italia ini mengaku kalau dia tidak main-main terjun ke dunia seni peran.

Waktu Cosmo mewawancarai Anda di edisi ulang tahun ke-20, Anda sempat bilang kalau Anda sudah “melompat” dari satu industri ke industri lain. Mengapa akhirnya memilih akting?

Well, awal mulanya saya memang berkarier di dunia fashion sebagai desainer. Lalu, sempat juga menjadi MC untuk acara travel. Namun, sepertinya akting yang paling cocok buat saya.

Jujur, saya orangnya cepat bosan dan selalu ingin mencoba hal baru. Lewat akting saya bisa mencoba berbagai hal di setiap peran yang saya mainkan, dan saya suka dengan hal itu. Ah… Pokoknya, saya sudah jatuh cinta dengan dunia akting!

Film Posesif adalah film pertama Anda. Cerita dong pengalaman berperan jadi Lala di film ini!

Sebenarnya saya sempat terpikir untuk mundur lho dari project film ini. Bukan cuma merasa grogi karena ini film pertama saya, tapi berperan menjadi Lala adalah tanggung jawab yang besar.

Pesan yang ingin disampaikan dari film ini bukan hal yang sepele. Posesif adalah film tentang abusive relationship dan Lala adalah protret seorang remaja yang menjadi korban dari kekerasan tersebut.

 

Lalu, apa yang membuat Anda yakin untuk ikut serta di film Posesif?

Pada waktu itu mama yang meyakinkan saya. Edwin sebagai sutradara dan Adipati Dolken yang berperan jadi Yudis, lawan main saya di film ini, juga sangat suportif. Sejak saat itu, saya komitmen untuk memerankan Lala.

Dan… Akhirnya totalitas Anda membuahkan Piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik.

Wah, kalau itu saya gak menyangka banget. I feel so honoured. Piala Citra memacu saya untuk berkarya lebih banyak lagi.



By the way, sebenarnya Anda tipe pasangan yang posesif tidak sih?

Saya percaya setiap orang punya sisi posesif dalam dirinya, tetapi kadarnya berbeda-beda. Kalau Yudis itu kadarnya sudah sangat parah, yang sampai-sampai membuat dia bisa melakukan kekerasan.

Saya juga ada sisi posesifnya, tapi kadarnya sedikit. Ya… Bisa dibilang saya ini perhatian dengan pasangan saya. Hehe.

Dengan padatnya jadwal, bagaimana caranya supaya tidak stres?

Saya lahir dan besar di Bali, sehingga pantai selalu jadi tempat untuk melepas stres dan menemukan inspirasi. Dulu, waktu masih tinggal di Bali, setiap kali merasa sumpek saya tinggal pergi ke pantai.

Tapi semenjak tinggal di Jakarta, agak susah ya mencari pantai. Jadi, paling yang saya lakukan hanya melihat-lihat foto saya waktu lagi diving.

Ada bedanya tinggal di Bali dengan tinggal di Jakarta?

Ada banget! Di Bali everyday is a holiday, bahkan di lingkungan kerja pun begitu. Tidak seperti di Jakarta yang serba cepat.

Awalnya sempat kesulitan mengikuti ritme kerja orang Jakarta, meski akhirnya bisa karena terbiasa. Namun, saya tetap sering homesick. Sehingga, sebisa mungkin saya selalu menyempatkan waktu untuk pulang ke Bali.

Sebutkan dong hal tentang Anda yang banyak orang tidak tahu.

Saya penggila kopi! Saya bisa lho sehari minum empat gelas kopi. Saya sering datang sendirian ke coffee shop untuk ngopi sambil mendengarkan lagu dan menulis puisi.

Apa lagi ya? Oh, saya juga hobi memasak. Biasanya saya masak pasta atau makanan Indonesia, terkadang suka baking juga.

Kalau soal film, Anda sebenarnya suka film yang seperti apa?

I’m very open for any genre… Saya suka semua genre film, kecuali horor. Saya takut banget kalau nonton film horor. Nyerah deh kalau diajak nonton film yang ada hantunya.

Oh ya? Kalau Anda diajak bermain di film horor bagaimana?

Kalau memang ceritanya oke, saya tetap terima tawarannya. Namun, saya sepertinya tidak mau deh menonton filmnya saat premier. Kalaupun nonton, saya pasti menutup mata sepanjang film!

Akreditasi
Fotografer: SaffeiAdjie
Digital Imaging: Andy Hendrawanto
Stylist: Dheniel Algamar
Penulis: Hana Devarianti/FT
Makeup Artist: Ifan Rivaldi (+62818811802)
Hairstylist: Krisna
Wardrobe: (jumpsuit) Sebastian Gunawan. (sepatu) Pedro. (aksesori) House of Jealouxy.

Source: Cosmopolitan Indonesia