Strategi saat anak malas mengerjakan pekerjaan rumah

Strategi saat anak malas mengerjakan pekerjaan rumah

670

Ketika anak sudah mulai masuk masa sekolah, ada saatnya anak membawa pekerjaan rumahnya yang banyak ke rumah. Bukan hanya anak saja yang akan malas, tapi kita sebagai orang tuanya jadi ikut pusing dengan si anak.

Apalagi jika seminggu penuh mendapat pekerjaan rumah, tidak terbayang padatnya seminggu penuh itu.

Ada saatnya anak sulit untuk disuruh mengerjakan pekerjaan rumahnya. Namun, memarahi dan menasihati anak, saat ini sudah menjadi komunikasi yang tidak efektif.

Bersama Mona Ratuliu dalam Parenthink kali ini membicarakan, bagaimana strategi agar anak mau mengerjakan pekerjaan rumahnya?

Cara pertama adalah memberikan pilihan, anak dibiarkan memilih mengerjakan pekerjaan rumahnya dahulu atau menonton TV.

Dibandingkan memarahi dan menasihati, memberi pilihan membuat emosi anak teralih, anak jadi sibuk berpikir untuk mempertimbangkan keputusannya.

Selain itu cara ini juga membantu anak dalam mengambil keputusan, anakpun merasa dirinya juga memiliki kuasa di rumah.

Memiliki kuasa di rumah akan mengurangi resiko anak mem-bully orang lain di luar untuk melampiaskan hasratnya berkuasa dan mengontrol keadaan.

Cara lainnya bisa membuat aturan di rumah. Jangan hanya diucapkan, tapi juga harus dituliskan dan disetujui bersama. Dari situ, anak akan berlatih dengan tanggung jawabnya terhadap peraturan dan ia jadi terbiasa untuk mengikuti aturan yang ada di luar rumah.

Jika anak tetap tidak mau mengerjakan pekerjaan rumahnya, jangan marah dulu. Biarkan anak merasakan konsekuensi atas tindakannya seperti hukuman dari gurunya di sekolah.

Lama kelamaan anak akan mengerti atas setiap tindakan yang ia lakukan sudah satu paket dengan risiko yang ia dapatkan.

Bagaimana memotivasi anak agar mampu menyelesaikan pekerjaan rumahnya?

  • Berikan suasana yang nyaman kepada anak. Suasana yang tidak menyenangkan akan membuat anak tertekan dan enggan mengerjakan pekerjaan rumahnya.
  • Jangan biarkan anak belajar dengan perut kosong. Salah satu faktor stress dan kesulitan berkonsentrasi dalam belajar adalah karena perut anak masih kosong.
  • Jangan marah-marah terhadap anak. Ini hanya akan membuat anak stres dan konsentrasinya hilang karena mereka menjadi tegang.
  • Dan yang terakhir, pujilah pekerjaan anak. Memuji pekerjaan mereka membuat mereka merasa dihargai. Secara otomatis mereka akan berusaha lebih keras lagi.

Cosmoners, yuk terus dengerin Cosmopolitan FM di 90.4 FM, atau bisa melalui streaming di sini!

[teks Hardianti Budhi | foto ahchealthenews.com]

Baca juga:
Kartika Jahja terdaftar dalam BBC 100 Women
Wajah-wajah baru di “Hairspray Live!”
Artika Sari Devi bercerita mengenai kesibukannya saat ini