4 Kekhawatiran pria ketika menjadi ayah

4 Kekhawatiran pria ketika menjadi ayah

185
ayah gendong anak

Bagi seorang ibu baru, melahirkan adalah hal yang sangat membahagiakan sekaligus melelahkan, dan bahkan mengalami kekhawatiran. Ternyata, perasaan ini bukan milik ibu semata, tapi juga dirasakan oleh ayah baru.

Hal ini dikatakan oleh seorang ahli perkawinan, Gladeana McMahon, “Memiliki bayi akan mengubah kehidupan seorang ayah secara dramatis. Menjaga, menafkahi keluarga, dan menghadapi perubahan-perubahan dalam hubungan adalah hal yang menakutkan bagi kebanyakan pria.”

Berikut ini 4 hal yang ada di dalam pikiran para ayah baru.

1. Menjalin Ikatan dengan Bayi

Pada tahap awal, para ibu biasanya memonopoli pengasuhan bayi, terutama jika ibu menyusui. Namun sebenarnya, para ayah juga memiliki dorongan yang sama untuk ikut berperan. Itu sebabnya, banyak ayah frustrasi karena tidak bisa berbuat apa-apa.

Pada kenyataannya, para ayah menghabiskan lebih sedikit waktu dengan bayi yang baru lahir ketimbang para ibu. Jika mereka diberikan jumlah waktu yang sama, maka mereka akan bisa membina bonding dengan Si Kecil sama seperti istri mereka.

Namun, sangatlah umum bagi ayah pemula tidak pernah memegang bayi sampai anaknya sendiri lahir. Jadi, kurangnya rasa percaya diri merupakan faktor penyebabnya. “Kuncinya adalah sedikit dan sering kalau berbicara tentang bonding,” ujar David Cohen, psikolog dan penulis buku What Every Man Should Know About Being A Dad. Menjadi ayah adalah sebuah pengalaman langsung dan bukan cinta teoritis.

Rosdiana Setyaningrum, psikolog di ADR Advisory menambahkan bahwa kekhawatiran ini lebih sering muncul pada ayah Asia, di mana peran ibu masih sangat dominan dalam pengasuhan anak. Selain itu, kedewasaan dari calon ayah juga sangat berpengaruh terhadap hal ini.

Memang, gaya pengasuhan anak pada pria berbeda dengan wanita. Jika ayah tidak cakap menyuapi dan mengganti popok, tidak jadi masalah. Lakukan saja sesuai kemampuan, misalnya mengajak bermain, membacakan dongeng, mengajak jalan, dan lain sebagainya.

2. Memiliki Tanggung Jawab Ekstra

Salah satu faktor stres utama untuk ayah pemula adalah tanggung jawab ekstra. Jika seorang pria terbiasa dengan gaya hidup independen, maka berhadapan dengan rutinitas seperti mengganti popok dan menyiapkan susu di samping menjaga pekerjaan mereka tetap lancar adalah hal yang sungguh menantang.

Belum lagi kekhawatiran ayah baru terhadap kesehatan buah hatinya yang memang masih rentan dengan berbagai penyakit. Namun, perlu disadari bahwa ini adalah bagian normal untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.

“Cara mengatasi kekhawatiran yang paling mudah adalah dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya. Misalnya, apa saja permasalahan yang biasa dialami bayi dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Dengan bekal pengetahuan yang cukup, maka kita bisa merasa lebih aman,” ucap Rosdiana.

3. Beban Finansial

Banyak kajian menunjukkan bahwa ketakutan nomor satu bagi seorang ayah adalah masalah keuangan. Memikirkan biaya untuk popok, susu, imunisasi, pengobatan, dan asuransi memang membuat pria merasa khawatir.

“Persiapan menyangkut biaya yang dilakukan sebelum anak lahir akan bisa sangat membantu mengatasi kekhawatiran tersebut. Hal ini sangat penting karena kekhawatiran akan membuat kita stres dan pada akhirnya akan berpengaruh pada hubungan dengan pasangan,” jelas Rosdiana.

“Persiapan keuangan tidak perlu terlalu detail, cukup sekadar basic cost-nya saja. Jika terlalu detail, justru akan membuat Anda tidak pernah merasa siap memiliki anak. Menyangkut pendidikan anak nantinya, setiap pasangan bisa menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing,” tambah Rosdiana.

4. Hubungan dengan Istri

Memiliki bayi akan menguji hubungan sebuah pasangan. Suami akan kehilangan cara lamanya untuk menghabiskan waktu bersama pasangan, dan itu adalah hal besar yang harus diterima, bahkan bisa menjadi salah satu alasan utama hancurnya sebuah pernikahan.

Bagaimana menghadapi hal ini? Untuk masalah ini, Rosdiana menegaskan, “Kerja sama dan komunikasi yang baik dengan pasangan dalam mengasuh anak akan bisa mempererat hubungan. Selama sebuah pasangan bisa menikmati proses mengasuh anak bersama, maka hal tersebut akan bisa memperkuat hubungan mereka.”

Hal yang terpenting adalah suami dan istri harus terbuka dengan perasaan masing-masing. Tentu saja kalau Anda lelah dan emosional, sulit untuk melakukan pembicaraan santai. Pilihlah waktu yang memungkinkan Anda berdua merasa rileks, dan lakukan percakapan. Walaupun hanya sebentar, jika Anda lakukan setiap hari, hal ini akan bisa menambah erat hubungan Anda berdua. (M&B/SW/Dok. Freepik)

Sumber artikel dari Mother and Baby Indonesia

Share it

LEAVE A REPLY