Bagaimana perbedaan introvert dan fobia sosial?

Bagaimana perbedaan introvert dan fobia sosial?

1737

Health Club bersama Lembu Wiworo Jati dan Allan Steven membahas mengenai perbedaan introvert dan fobia sosial. Banyak yang menganggap bahwa keduanya adalah sama, yaitu malu di hadapan sosial. Bersama Dr. Dyani Pitra Velyani, SpKJ membahas perbedaan tersebut.

Fobia sosial sebenarnya sama seperti stage fright. Namun, “stage” di sini berada dalam lingkungan sosial. Orang yang mengalami ini cenderung takut pada keramaian, sering merasa cemas berlebihan, dan selalu takut apabila dihadapkan pada lingkungan sosial baru.

Sedangkan introvert, hanya berupa pembawaan. Orang yang introvert cenderung sulit membuka diri, namun bukan berarti ia sulit bergaul. Banyak orang introvert yang mudah berteman, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Lalu, apa bedanya fobia sosial dengan pemalu? Kalau orang yang pemalu, meskipun awalnya ia takut, gugup atau cemas, namun ia berhasil melewatinya dan bisa menunjukkan dirinya.

Misal, saat harus berbicara di depan kelas, awalnya merasa gugup, adalah hal yang wajar. Namun pada akhirnya kalau berhasil, maka ia hanya malu. Apabila yang fobia sosial, ia akan cenderung mencari cara agar tidak perlu berbicara di depan kelas.

Orang yang seperti apa yang cenderung fobia sosial? Biasanya, orang yang sangat dipengaruhi oleh pendapat orang lain. Lalu orang yang perfeksionis, dan orang yang sering cemas. Sering khawatir memikirkan apa kata orang, dan terlalu takut untuk gagal.

Apabila dalam lingkungan baru, orang yang fobia sosial cenderung tidak ingin menyapa terlebih dahulu. Lalu kaku di hadapan orang baru.

Peran orang tua dalam mengatasi anaknya yang fobia sosial adalah, jangan overcritized. Jangan terlalu melarang dan menyuruh anaknya harus begini begitu, anak kecil akan bingung apabila terlalu banyak dikekang.

Anak yang mengalami fobia sosial, biasanya mulai terlihat pada masa SD, sekitar kelas 1 dan 2. Pada anak yang masih TK, atau yang masih di bawah itu, wajar apabila belum memulai komunikasi dengan teman sebayanya.

Karena fokus mereka hanyalah bermain, dan baru membiasakan diri berada di sekitar banyak orang, namun tidak harus membina hubungan dengan yang lain.

Ada baiknya untuk membantu mengatasi fobia sosial ini, dengan mempersiapkan diri dengan matang apabila ada saat harus menunjukkan skill, lalu harus bisa confident di setiap hal.

Lingkungan yang mendukung juga diperlukan untuk mengurangi fobia sosial.

Apabila fobia sosial dialami terus-terusan hingga dewasa, ini bisa mengakibatkan hal yang lebih serius, seperti susah memiliki teman, hidup selalu penuh tekanan, tidak maju dibandingkan yang lain, dan bisa menyebabkan depresi.

Cosmoners, yuk terus dengerin Cosmopolitan FM di 90.4 FM, atau bisa melalui streaming di sini! [teks Gabriella Sakareza | foto halomom.com]

Baca juga:
Hobi menjadi faktor penunjang karier
To resign or to not resign
Camila Cabello resmi hengkang dari Fifth Harmony

Share it

LEAVE A REPLY