Ciptakan kegiatan outing kantor yang lebih sarat makna

Ciptakan kegiatan outing kantor yang lebih sarat makna

2202

Saat ini sudah memasuki musim liburan akhir tahun, beberapa perusahaan memberi libur yang cukup panjang untuk karyawannya. Beberapa lainnya mungkin tidak memberi libur sama sekali.

Tetapi, dari musim liburan ini mungkin ada juga beberapa perusahaan yang memanfaatkannya dengan mengadakan sebuah kegiatan outing. Outing tersebut dimaksudkan untuk menjadi ajang saling memperkuat satu sama lain.

Di Cosmopolitan Career kali ini, Novita Angie dan Lembu Wiworo Jati, seperti biasa ditemani oleh Alexander Sriewijono, seorang psikolog yang juga pendiri dari TALK-inc dan Daily Meaning, akan membahas bagaimana caranya membuat outing kantor menjadi tidak sekedar buang-buang uang dan waktu, dan bisa membawa dampak nyata untuk meningkatkan produktivitas tim di dalam sebuah perusahaan.

Outing ini sendiri memiliki beberapa jenis dan tingkatan. Ada yang hanya jalan-jalan bersama seperti makan bersama atau ada yang sampai menginap.

Atau yang kedua, ada yang membuat kegiatan jalan-jalan tersebut ditambahkan dengan kegiatan outbond, bahkan ada juga yang kemudian digabung dengan raker. Biasanya, kebanyakan perusahaan yang menyertakan outbond dan raker dalam kegiatan outing tersebut.

Kesalahan terbesar dari outing semacam itu adalah merencanakan kegiatan tanpa ada game plan yang jelas. Hanya sekedar kompak, kompak, dan kompak.

Padahal bisa jadi kompaknya hanya berlangsung saat kegiatan panjat-memanjat bersama. Sewaktu mereka kembali ke kantor, mereka mungkin tidak lagi kompak.

Lalu masalah-masalah seperti apa yang biasa terjadi dan bisa diselesaikan melalui outbond? Alexander Sriewijono menjelaskan bahwa kita harus bedakan antara team building dengan team skill.

Team building misalnya, dibentuk sebuah tim dengan anggota empat orang. Kalau team building, selama perjalanan atau apapun aktivitas yang dilakukan kita akan menjadi sangat kompak.

Karena kita membangun tim di antara empat orang ini sebagai anggotanya. Lalu, kalau salah satu anggotanya keluar dan masuk yang baru, belum tentu tim ini akan kompak seperti awal.

Tetapi kalau team skill, yang dilatih adalah skill teaming-nya. Sehingga siapapun anggotanya, tim tersebut akan selalu kompak. Jadi, yang harus lebih diperhatikan adalah fokus pada team skill dibandingkan dengan team building.

Selanjutnya hal seperti apa yang seharusnya kita targetkan dari outing perusahaan agar membawa impact atau dampak pada produktivitas tim bukan hanya sekedar buang uang.

Untuk hal ini, yang paling bisa diperoleh adalah breaking the barriers. Yang biasanya hanya formal di kantor, tiba-tiba muncul habit masing-masing orang, misalnya ada yang tidur suka mengorok, lalu bercanda sembarangan, dsb.

Breaking the barriers-nya adalah kemudian, seberapa jauh tingkat kenyamanan kita sampai di level personal seperti itu, yang sebisa mungkin kita bawa ke pekerjaan. Sehingga saat di pekerjaan, kita pun jadi bisa mengobrol santai.

Lalu, prinsip esensial seperti apa yang seharusnya dipegang perusahaan dalam merancang bentuk acara outing, yang juga bisa memberikan impactful experience yang lebih pada karyawan-karyawannya?

Yang benar adalah belajar mengenai life skill. Jadi yang lebih dipilih untuk daily meaning adalah penginapan seperti apartemen, misal dengan tiga kamar atau lima kamar.

Kebersamaan mengobrol di ruang keluarga, bergantian siapa yang memasak setiap harinya, siapa yang mengurus laundry, siapa yang membersihkan apartemen, siapa yang belanja ke pasar, dan seterusnya.

Seberapa jauh orang punya keterampilan untuk hidup, untuk bisa survive melalui setiap masalah, melalui setiap tantangan, hambatan, dan lain-lain.

Desainnya adalah life skills. Jangan sampai dilihat ini hanyalah sebuah kewajiban perusahaan untuk memberangkatkan karyawannya, karena tidak ada kewajiban yang seperti itu.

Cosmoners, yuk terus dengerin Cosmopolitan FM di 90.4 FM, atau bisa melalui streaming di sini! [teks Devina Dea | foto glassdoor.com]

Share it

LEAVE A REPLY