“Coco”, mengangkat perspektif lain kehidupan

“Coco”, mengangkat perspektif lain kehidupan

796

Pixar Studio telah menghadirkan perspektif kehidupan yang melampaui batas imajinasi. Berbagai hal yang sebenarnya dekat dengan kita, seperti mainan, serangga, monster, ikan, mobil, tikus, robot, bahkan manusia itu sendiri dipersonifikasi layaknya manusia.

Film terbaru yang disutradarai oleh Lee Unkrich diberi nama Coco. Film ini akan dirilis di Indonesia pada bulan November 2017.

Berlatar di Mexico, film ini menceritakan kisah seorang anak laki-laki berusia 12 tahun bernama Miguel yang hidup di dalam keluarga yang membenci musik. Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi Miguel yang sebenarnya ingin sekali menjadi seorang musisi handal layaknya Ernesto de la Cruz.

Miguel berasal dari sebuah desa bernama Santa Cecilia, seorang santa yang dikenal sebagai pelindung musisi.

Pixar mengambil inspirasi dari sebuah kota di Meksiko bernama Oaxaca dalam merancang desa ini. Di desa ini, Miguel mengalami serangkaian kejadian mistis dan ajaib yang mengarahkannya kepada sebuah daerah yang dipenuhi dengan skeleton atau dikenal dengan sebutan Land of the Death.

Dalam petualangnya, Miguel ditemani oleh seorang pengembara bernama Hector, yang selalu menguji kehebatan Miguel dalam bermusik serta mengungkapkan rahasia keluarga Miguel yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.

Unkrich sendiri sudah sejak lama tertarik dengan perayaan Día de los Muertos atau hari orang mati. Ia sangat tertarik dengan berbagai ikonografi dan kebudayaan masyarakat yang mewarnai perayaan tersebut, dimana mereka yang masih hidup dan telah tiada dapat kembali bersatu.

Momen tersebut merupakan sebuah perayaan yang indah,” ungkap sang sutradara yang terlibat dalam deretan film animasi unggulan Pixar Monsters Inc, Finding Nemo dan Toy Story 3.

Adanya perayaan ini menjadikan momen saat kalian memikirkan orang-orang terkasih yang telah tiada menjadi sesuatu yang begitu menyentuh namun tetap punya sisi menyenangkan,” lanjutnya.

Lima tahun lalu, Unkrich mulai merencanakan pembuatan film Coco. Sejak awal, Unkrich banyak melibatkan anggota dari komunitas Latin untuk membantu proses pembuatan film.

Tuntutan dalam menjaga keaslian budaya juga memberi pengaruh dalam proses casting para pemeran di film ini.

Ernesto de la Cruz, yang diperankan oleh Benjamin Bratt, merupakan sosok gabungan dari musisi-musisi terkenal asal Meksiko terpilih untuk memainkan salah satu tokoh penting dalam film Coco, yaitu sebagai nenek Miguel atau dalam bahasa Meksiko disebut abuelita.

Menurut Unkrich, menemukan aktor cilik yang berbakat itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Untuk bagian terpenting dalam film tersebut, sang sutradara memilih Anthony Gonzalez, seorang anak asal Los Angeles yang baru saja genap berusia 12 tahun.

Kami benar-benar melawan waktu untuk menemukannya. Ia menjadikan film ini benar-benar spesial,” ungkap Unkrich.

Cosmoners, yuk terus dengerin Cosmopolitan FM di 90.4 FM, atau bisa melalui streaming di sini! [teks Andre Fransisco | foto radiodisneyclub.fr]

Baca juga:
Membangun keunikan rasa Eskimomo
Perayaan Lunar New Year dari Michael Kors
Permasalahan retensi karyawan bagi para leader

Share it

LEAVE A REPLY