Isu kesehatan mental di mata Velove Vexia

Isu kesehatan mental di mata Velove Vexia

190

Bicara tentang isu kesehatan mental bisa jadi mempertimbangkan banyak hal. Seseorang tidak bisa menilai dan menghakimi dengan mudah, apalagi tanpa latar atau pengetahuan yang jelas.

Dan, memukul rata isu kesehatan mental bisa jadi berbahaya.

Ungkapan itu disampaikan Velove Vexia (28) saat diwawancarai di sela-sela pemotretan cover herworld Indonesia untuk edisi Januari 2019. Ia pun mengutarakan opininya pada Rengganis Parahita, dalam tanya jawab berikut ini.

Dunia sedang menyoroti kasus-kasus yang berhubungan dengan mental health. Kewaspadaannya juga makin digalakkan terutama di ranah sosial media. Bagaimana tanggapan Anda akan hal ini?

“Pada dasarnya mental health tak bisa disamaratakan begitu saja. Dari segala sisi, kondisi ini sangatlah subjektif mulai dari sisi psikologis, klinis, hingga pemicu munculnya ‘gangguan’ itu sendiri.

Tiap orang punya stressor berlainan sehingga cara penanganannya pun harus dibedakan. Oleh sebab itu, kepahaman masyarakat mengenai isu ini baiknya diutamakan sebab cakupan tema yang diangkat amat lebar.

Mengerucutkannya dalam bahasan sempit malah bisa berisiko. Makanya tidak boleh sembarangan karena menyangkut kejiwaan seseorang.”

Apa yang baiknya dilakukan?

“It’s a serious thing! Oleh sebab itu, datang dan bertanya langsung pada ahlinya adalah tindakan paling benar. Tapi seperti yang saya sampaikan sebelumnya, isu ini sifatnya sangat pribadi. Kembali pada masing-masing persona apakah mereka merasa perlu untuk berkonsultasi atau tidak.

Ada yang merasa stres namun hanya perlu bepergian untuk membuatnya kembali normal dan ada pula yang cukup bermeditasi untuk menetralkan kegundahannya. Semua tidak sama. That’s why permasalahan ini harus dikaji secara lebih holistik per individu.

Ragam faktor yang melatarbelakangi seperti sosial budaya, sistem syaraf, sampai urusan keluarga tak bisa dibenahi hanya dengan satu atau dua anjuran yang bahkan belum tentu pas diberlakukan pada mereka. Saya pun tak punya kapasitas untuk membahasnya lebih jauh.”

Kembali ke masalah awareness, apakah menurut Anda upaya-upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam meningkatkan kepedulian terhadap mental health sudah baik?

“Sejauh ini saya rasa sudah. Orang sedikit banyak telah mau memahami secara lebih rinci mengenai permasalahan ini. Namun lagi-lagi, semua harus kembali pada diri masing-masing. Saya yakin tiap orang punya kemampuan untuk ‘mengobati’ dirinya sendiri.

Tapi jika secara klinis mereka dinyatakan membutuhkan perawatan khusus, maka kita harus menjadi support system tanpa bersikap menggurui. We never walked on their shoes, right?”

Kalau Anda sendiri, bagaimana cara untuk terhindar dari stres dan situasi seperti apa yang paling tidak disukai sehingga mengganggu ketentraman hati?

“Karena sangat suka baca buku, saya akan langsung masuk kamar dan menenggelamkan diri pada koleksi bacaan yang kiranya mampu mengobati kekalutan. Di sana saya bisa segera merasa nyaman karena tempat itu adalah ‘zen zone’ bagi saya.

Nah, tiap orang pasti punya zona itu. Zona tenangnya masing-masing. Tinggal bagaimana mereka menemukannya dan mencoba untuk deal with the situation. Kalau ditanya situasi apa yang paling tidak saya sukai, saya selalu tak tahan jika harus berhadapan dengan orang yang merasa dirinya superior. Mengganggu sekali.”

Terakhir, kami dengar Anda sempat melakukan kegiatan sosial yang diprakarsai oleh UN Women di Palu pasca gempa dan tsunami kemarin. Apa yang dilakukan di sana?

“Waktu itu saya diberangkatkan untuk jadi bagian dalam melihat kondisi para perempuan penyintas bencana yang ada di pengungsian. Bekerja sama dengan NGO lokal yaitu Sikola Mombine, Badan Pemberdayaan Perempuan Propinsi Sulawesi Tengah, dan beberapa instansi lainnya, kegiatan ini diharapkan bisa punya dampak positif bagi para survivor tersebut.

Perjalanan saya kemarin juga bersamaan dengan momen “16 Days of Activism Against Gender Based Violence” yang jadi salah satu bagian dari kampanye UN Women. Melaluinya kami coba menyuarakan dan mempromosikan pada semua pihak agar menghentikan tindak kekerasan pada perempuan dalam bentuk apa pun.

Oleh sebab itu, para perempuan juga diminta untuk menyuarakan fakta saat dirinya terkena tindak kekerasan setidaknya pada orang-orang terdekat atau yang dirasa bisa membantu.

Sesuai dengan tema #HearMeToo yang diangkat, kegiatan ini memang fokus untuk menyelamatkan perempuan dari situasi dan kondisi yang dirasa kurang menguntungkan. Macam-macam pelatihan dari mulai workshop sederhana sampai leadership training pun turut dilaksanakan. Semoga ada sisi positif yang bertunas dari rangkaian kegiatan tersebut.”

(Teks: Rengganis Parahita. Foto: Agus Santoso Yang)

Sumber Her World Indonesia

Share it