Problema seputar sekolah anak

Problema seputar sekolah anak

820

Sekarang anak-anak sudah kembali memasuki masa sekolah. Dari yang tadinya libur panjang, bisa dua minggu lebih atau mungkin satu bulan lebih, akan ada saat anak malas kembali bersekolah.

Untuk membuat anak kembali bersemangat sekolah, dan terbiasa dengan kehidupan di sekolah, dalam ParenThink bersama Mona Ratuliu akan membahas cara anak kembali terbiasa di sekolah.

Untuk kali ini, Mona akan membahas berbagai problema sekolah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Cosmoners.

Bagaimana kalau si anak kembali ingin ditemani selama di kelas? Yang tadinya sudah berani ditinggal, tapi jadi takut lagi?

Kalau anak masih takut ditinggal, ini merupakan hal yang wajar. Untuk menghadapi hal ini, harus orang tua atau guru yang memberi strategi. Misal, dalam 2-3 hari ibu menemani di dalam kelas. Namun setelah tiga hari, ibu menunggu di luar kelas, namun masih dalam radar penglihatan anak. Terlihat di jendela, misalnya.

Kalau pun di luar radar anak, beritahu anak Anda berada di mana. Misal, Anda menunggu di luar pintu, Anak harus tahu, dan Anda harus benar-benar di sana. Jangan malah pergi ke tempat lain, karena kalau anak takut pasti anak akan berusaha memastikan apakah ibunya benar berada di luar pintu atau tidak.

Kalau Anda tidak ada di sana, sama saja Anda berbohong dan anak akan tidak percaya pada Anda.

Anak semangat berangkat sekolah, tapi malas untuk belajar dan mengerjakan pr. Apalagi dengan materi sekolah yang semakin sulit.

Jangankan anak, kita yang sudah dewasa terkadang juga masih sering merasa malas melakukan kewajiban. Jadi ini hal yang sangat wajar untuk si anak.

Untuk menghadapinya, buat kesepakatan dengan si anak, bahwa “kewajiban lebih utama daripada hak”. Jadi, buat perjanjian setelah sang anak mengerjakan pr, anak boleh melakukan haknya seperti main game, lego, dll. Kalau diperjelas bahwa ia bisa melakukan hal-hal yang ia senangi, setelah ia menyelesaikan kewajibannya.

Usia berapa sebenarnya anak bisa mulai sekolah?

Sekarang ini sudah ada pre-school, playgroup, dan semacamnya. Itu bukan suatu keharusan. Anda boleh saja langsung memasukkan anak ke tingkat dasar, asal Anda tahu benar pengetahuan anak sudah sejauh apa.

Kalau Anda bisa mengajarkan sendiri pengetahuin yang dipelajari dalam preschool atau playgroup, maka masukkan saja langsung ke TK. Apalagi sudah banyak buku pendukung belajar saat ini.

Biasanya preschool atau playgroup juga melatih anak untuk bergaul dengan teman-teman sebaya. Namun, apabila sang anak memiliki saudara, maka pelatihan anak bergaul tidak harus melalui preschool atau playgroup.

Orang tua harus yang paling tahu mengenai kemampuan anak sudah sejauh apa.

Cosmoners, yuk terus dengerin Cosmopolitan FM di 90.4 FM, atau bisa melalui streaming di sini! [teks Gabriella Sakareza | foto socialmoms.com]

Baca juga:
Melintasi “Dunia Maya” bersama Ari Lasso
Is he the one?
Trik mudah ajak anak dan bayi traveling

Share it

LEAVE A REPLY