To resign or to not resign

To resign or to not resign

862

Cosmoners, mungkin anda kerap kali merasa jenuh saat menjalani pekerjaan di kantor. Kejenuhan ini lantas terjadi berulang-ulang dan akhirnya membuat Anda memutuskan untuk mengundurkan diri atau resign.

Hal ini merupakan suatu problematika klasik yang sering kita jumpai di kota-kota besar. Sebenarnya, kejenuhan akan selalu ditemukan dalam perjalanan karier Anda.

Untuk membantu Anda mengatasi kedilemaan tersebut, telah hadir bersama Novita Angie dan Lembu Wiworo Jati di Cosmopolitan Career kali ini, yaitu seorang psikolog yang juga pendiri dari TALK-inc dan Daily Meaning, Alexander Sriewijono.

Biasanya akhir tahun merupakan momen-momen dimana orang mulai mempertanyakan apakah sepanjang tahun ini dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan atau belum. Sehingga dilema untuk memutuskan resign atau tidak mulai terjadi.

Sekarang coba bayangkan jika Anda menjadi seorang leader dalam perusahaan tempat Anda bekerja. Anda memiliki anak buah, lalu salah satu dari mereka tiba-tiba mengundurkan diri atau resign dari timnya.

Pasti hal itu akan sangat merepotkan, apalagi yang meminta untuk resign adalah salah satu karyawan terbaik Anda. Terbukti pada survei yang telah dilakukan kepada para leaders, bahwa 8 dari 10 di antara mereka menyatakan hal yang sama.

Mereka akan ’tepuk jidat’ jika dihadapkan pada situasi seperti ini. Hanya sedikit yang kemudian melihat hal ini sebagai sebuah kesempatan.

Kenapa bisa respon ’tepuk jidat’ itu terjadi? Mungkin karena proses merekrut karyawan baru tidaklah mudah dan melelahkan, belum lagi mencari karyawan yang cocok dengan kriteria itu sangat sulit, sehingga respon tersebut sangat wajar.

Jika Cosmoners merasa jenuh saat menjalani pekerjaan sehari-hari di kantor, janganlah langsung mengambil keputusan untuk resign. Pelajari dulu apa yang menyebabkan kejenuhan itu terjadi.

Jika kejenuhan tersebut terjadi hanya sementara, mungkin jalan keluarnya Anda bisa mencoba untuk piknik atau liburan sejenak.

Tetapi jika kejenuhan tersebut permanen, artinya proses yang dilalui memang sudah terjadi 3-4 tahun bekerja, melakukan hal dan rutinitas yang sama, lalu Anda merasa tidak ada kenaikan kelas atau jabatan, maka itulah yang kemudian baru memiliki alasan.

Pertimbangan yang kedua adalah sesuatu yang betul-betul mendasar, alasan dangkal yang membuat anda ingin resign.

Contoh seperti ketidaksukaan Anda dengan teman sebelah meja ataupun bahkan dengan atasan Anda. Alasan ini bukanlah alasan yang benar untuk kita memutuskan resign dari pekerjaan.

Atau mungkin alasan lain di luar alasan pekerjaan yang benar-benar penting. Seperti contoh, Anda berpikir untuk pindah dan mencari kantor yang lebih dekat dari rumah agar Anda lebih punya banyak waktu untuk keluarga.

Hal-hal seperti itulah yang menjadi beberapa contoh yang harus Anda pahami betul saat ingin memutuskan resign atau tidaknya dari pekerjaan yang sekarang.

Jangan sampai kita didikte oleh orang lain, atau bahkan resign dengan alasan yang tidak masuk akal, apalagi memutuskan untuk resign saat hati sedang kesal atau marah.

Putuskanlah untuk resign saat Anda sedang merasa ‘happy’ sehingga Anda dapat berpikir jernih dan rasional.

Cosmoners, yuk terus dengerin Cosmopolitan FM di 90.4 FM, atau bisa melalui streaming di sini! [teks Devina Dea | foto metro.co.uk]

Baca juga:
Duet Zayn Malik dan Taylor Swift untuk OST Fifty Shades Darker
Berbagi kisah Rachel Octavia sebagai wanita karier
Edukasi anak tentang alat reproduksi dan seksualitas

Share it

LEAVE A REPLY